Advertisements

Polisi Ralat Dugaan Skizofrenia!! Ini Hasil Tes Kejiwaan Brigadir Petrus!!

image

Kasus Brigadir Petrus Bakus, masih bergulir. Kasus Petrus jelas menjadi pusat perhatian.

Setelah peristiwa mengerikan yang terjadi pada Jumat (26/2/2016) dini hari, sekitar pukul 00.40 WIB, dua anak kandung Bakus dibunuh secara keji dengan cara dimutilasi.

Sebelumnya pihak kepolisian, lewat Kapolda Kalimantan Barat (Kalbar) Brigjen Pol Arief Sulistyanto mengatakan, ada dugaan Brigadir Petrus terkena penyakit mental skizofrenia.

Sementara Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti meralat dan menyatakan kalau pelaku tidak mengalami gangguan jiwa melainkan hanya kesurupan.

Lalu apa sebenarnya ‘Skizofrenia’ ?

‘Skizofrenia’ adalah salah satu penyakit gangguan mental.

Di Indonesia sendiri, menurut lembaga riset pemerintah, ada 14,3 persen orang mengalami gangguan jiwa yersebut dan hidup dengan cara dipasung, yang artinya lebih dari 50 ribu orang penduduk Indonesia mengidap penyakit tersebut.

Jika menurut perbandingan, diantara 100 orang terdapat 1 orang pengidap Skizofrenia.

Berikut kajian dari dokter spesialis kedokteran jiwa.

Berdasarkan arsip Tribun, Dr A A Ayu Agung Kusumawardhani SpKJ(K) yang saat itu ia menjabat sebagai Ketua Seksi Skizofrenia Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengatakan, gangguan ini bisa diobati, bukan akhir dari segalanya.

Ia menyebut skizofrenia adalah gangguan di bagian otak.

Penyakit ini dipicu sebuah masalah dan ia memiliki masalah di bagian otak, bukan guna guna kutukan atau santet.

Gangguan ini serius tapi bisa diobati. Ini memang mengganggu cara berfikir, mengekpresikan, situasi lingkungannya sehingga menganggu sistem otak.

Skizofrenia merupakan suatu penyakit jiwa berat dan seringkali berlangsung kronis.

Adapun gejala utama berupa gangguan proses pikir sehingga pembicaraan sulit dimengerti, isi pikir yang tidak sesuai realita (delusi / waham), disertai gangguan persepsi panca indera yaitu halusinasi, dan disertai tingkah laku yang aneh, seperti berbicara atau tertawa sendiri.

Gejalanya ditandai penurunan fungsi kognotif mood dalam rasa.

Bisa dipicu penyalahgunaan zat sehinggga menyebabkan disfungsi sehingga pasien itu tidak bisa berkomunikasi dengan sekitarnya.

Jika tidak menjalani perawatan dengan baik, fungsi belajar jadi terganggu.

Lebih lanjut ia mengatakan, gangguan jiwa ini kerap muncul di usia produktif yaitu 15-25 tahun.

Penyakit mental ini perlu dilakukan terapi sedini mungkin, agar dapat meningkatkan kemungkinan pemulihan yang sempurna.

Berdasarkan penelitian, dua tahun pertama mendapatkan terapi  yang benar maka pemulihan bisa cepat.

Penderita Skizofrenia biasanya saat remaja mulai menunjukkan gejala-gejala waham halusinasi.

Waham didefinisikan mempersepsikan kejadian aneh.

Ini adalah gangguan isi pikir yang ditandai omongan sulit dimengerti atau tidak nyambung.

Advertisements

Posted on February 27, 2016, in Hot News and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: