Advertisements

Mengenal Fusako Shigenobu Teroris Tercantik Di Dunia

Masa muda Fusako Shigenobu

Jika ditanya siapakah teroris tercantik di dunia, pasti jawabannya adalah, Fusako Shigenobu. Siapakah dia? Dan bagaimana ceritanya hingga ia disebut teroris mematikan dari negeri sakura?

Fusako dikenal sebagai perempuan pendiri dan pemimpin Tentara Merah Jepang (Japanese Red Army/JRA). Organisasi yang hidup pada awal tahun 1970-an sampai awal tahun 2000-an ini berideologi komunis dan bermotif memperjuangkan kesejahteraan proletar alias rakyat jelata, sebelum akhirnya dibubarkan pemerintah Jepang.

JRA terkenal melalui aksinya, yakni 3 anggotanya direkrut Front Populer Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine/PFLP) untuk melakukan penembakan di Bandara Internasional Lod (kini bernama Bandara Internasional Ben Gurion) di Tel Aviv pada Mei 1972.

Penembakan ini menewaskan 26 orang dan mengakibatkan 80 orang luka-luka. Kemudian JRA juga melakukan pembajakan pesawat Japan Air Lines (JAL) 351 dan Malaysia Airlines 653, dan serangkaian pembajakan lain yang meminta tebusan uang.

JRA dikenal dengan aksi-aksinya yang sadis dengan meminta sejumlah uang tebusan, lalu mempersenjatai diri mereka sendiri sejak tahun 1970-1980an. JRA juga satu-satunya kelompok yang condong kepada Al-Qaeda untuk menyerang kepentingan AS.

Nah, bermula misi suci untuk kepentingan rakyat jelatah kok, malah jadi punya visi keji dan kejam, ujung-ujungnya kepentingan pribadi yang dilandaskan uang. Hmmm, speechless.

Fusako, sebagai sang pendiri JRA, dikenal sebagai mata-mata cantik yang terkenal di dunia kala itu. Ia juga dijuluki ‘Ratu Teror Merah’ serta ‘Teroris Perempuan Paling Ditakuti’. Dalam makalah O’Connor, Fusako diakui sangat cantik, dan dilabeli sebagai teroris tercantik di dunia.

Perempuan kelahiran September 1945 ini, di masa mudanya pernah bekerja sebagai penari telanjang untuk keluar dari kemiskian. Fusako juga dikenal sangat kejam pada anak buahnya. Pernah membunuh anak buahnya yang perempuan karena hamil atau salah meletakkan tisu.

Cerita hidupnya bahkan sampai menginspirasi pembuat film Kill Bill. Salah satu karakter di Kill Bill, O-Ren, yang diperankan Lucy Liu, diakui terinspirasi dari Fusako.

Fusako Shigenobu lahir pada tahun 1945 selang beberapa minggu setelah pemboman Hiroshima dan Nagasaki. Jelas saja jika kehidupan perekonomian keluarga Fusako jadi sangat miskin. Karena lumpuhnya perekonomian Jepang kala itu.

Ayahnya adalah seorang anggota sayap kanan organisasi, Liga Sumpah Darah, yang didedikasikan untuk membersihkan Jepang dari para politisi korup. Karena kemiskinan keluarganya, ia tidak mampu membayar kuliah.

Seorang wanita muda yang cantik, dia akhirnya menikah dan sekaligus bekerja sebagai penari topless (telanjang). Kesengsaraan sosial membuat ia berjanji menghapus komunisme, kelaparan dan status sosial.

Ia bertekad untuk menempatkan JRA pada peta teror, dia bersekutu dengan para teroris saat masih berstatus sebagai pelajar. JRA bergabung dengan kelompok teror besar dari Palestina, dan menyebut “revolusi adalah kekasihku.”

Pada pertemuan 1972, JRA diminta oleh Dr Wadi Haddad, seorang pendiri PFLP, untuk membantu membalas kegagalan pembajakan pesawat El Al. Pada 30 Mei 1972 tiga teroris Tentara Merah Jepang, dengan semangat bunuh diri mirip dengan semangat kamikaze Jepang kuno, menembak tanpa pandang bulu di Tel Aviv bandara dengan VZT-58 Czech senapan otomatis, membunuh 24 orang (satu teroris sengaja membunuh seorang teroris sebelum granat sengaja membunuhnya), dan melukai 78 lainnya.

Banyak dari korban adalah orang Puerto Rico yang hendak berziarah ke Tanah Suci. Salah satu korban mengaku sedih dan bertanya-tanya mengapa Jepang akan membunuh orang Puerto Rico bukankah orang Arab membenci orang Israel. Kenapa justru sasarannya Puerto Rico?

Salah satu teroris yang tergabung adalah Takeshi Okudaira, suami Fusako Shigenobu. Karena telah tertangkap, Shigenobu tidak bisa lagi meninggalkan Jepang dan berusaha melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk memperluas revolusi Tentara Merah Jepang di Angkatan Darat.

Fusako Shigenobu, saat berlatih perang di Lebanon selama 2 tahun

Menikahi Okudaira memungkinkannya untuk meninggalkan negara itu dengan nama baru. Namun beberapa sumber menyebut pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan untuk mendapatkan nama baru. Dia kemudian memerintahkan Okuidara untuk menjadi bagian dari skuad bunuh diri yang akan menyerang para pengamat di bandara Tel Aviv.

Ketiga anggota JRA yang merupakan orang Jepang dilatih selama tujuh minggu oleh teroris PFLP. Dua dari tiga penyerang tewas, Yasuda Yasuyuki dan suami Fusako, Okudaira.

Anggota JRA yang hidup ialah, Kozo Okamoto, ia melarikan diri dan menggunakan paspor palsu dengan nama Daisuke Namba, nama orang yang telah mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada Putra Mahkota Hirohito di tahun 1923.

Hubungan Okamoto dengan PFLP telah dimulai sejak tahun 1970 ketika seorang revolusioner Irak, Bassim, melakukan perjalanan ke Tokyo dan menjalin hubungan dengan Tentara Merah Jepang. Kedua kelompok membuat film yang disebut Perang Revolusi Dideklarasikan.

Okamoto terlibat dalam pertunjukan film di universitas dan akhirnya ikut terlibat menjadi anggota Tentara Merah Jepang. Sebelum dijatuhi hukuman seumur hidup karena pembunuhan dalam pengadilan Israel, Okamoto menggambarkan hubungan antara Tentara Merah Jepang dan PFLP sebagai sarana untuk mendorong JAR ke panggung dunia. Biar eksis, kena sindrom narsisme juga nih para pasukan JAR.

JAR mengklaim dunia Arab tidak memiliki “semangat spiritual”, sehingga kami merasa bahwa melalui upaya ini kita bisa membangkitkan dunia Arab ke tatanan dunia yang lebih baik, Israel saat ini telah memberikan listrik, yang telah ditolak para pengungsi Arab.. ” The PFLP memuji serangan itu.

The PFLP Abu Sherif merasionalisasi kekejaman sebagai serangan terhadap Zionisme dan imperialisme. Shigenobu menyatakan pembantaian adalah untuk “mengkonsolidasikan aliansi revolusioner internasional melawan imperialis dunia.”

Okamoto dijatuhi hukuman penjara seumur hidup namun dibebaskan pada tahun 1985 selama pertukaran tahanan antara Israel dan Palestina. Selama dipenjara ia masuk Islam, kemudian berharap akan dikonversi ke Yudaisme.

Pada tahun 1975 dia menyebut dirinya seorang Kristen. Ketika dia dibebaskan di Libya pada tahun 1985 ia disambut sebagai pahlawan dan bertemu dengan Fusako Shigenobu. Dia kemudian ditangkap lagi pada tahun 1997 dengan lima sahabat Tentara Merah Jepang di Lebanon karena diketahui membawa surat-surat identitas palsu.

Pada bulan Agustus 1972, JAR berhasil menghancurkan sebuah terminal Trans-Alpine minyak di pelabuhan Adriatik Trieste, Italia tetapi gagal dalam misi lain ketika mereka mencoba untuk meledakkan sebuah El Al Israel Boeing 707 di udara.

Namun, serangan mereka berikutnya dan yang paling terkenal terjadi di halaman belakang RAF di Olimpiade Munich. Abu Iyad dan Abu Daoud adalah dalang utamanya. Iyad akhirnya dibunuh pada tahun 1991 oleh perintah langsung dari Sadam Hussein melalui salah satu hitmen Abu Nidal, mungkin karena Iyad mengutuk serangan Hussein di Kuwait.

Usai serangkaian serangan sadis kelompok JAR, Shigenobu diam-diam kembali ke Jepang dan ditangkap di Osaka pada bulan November 2001 dan tetap menjadi tahanan di Jepang. Pada bulan Februari 2006, dia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara, karena keterlibatannya dalam penculikan pekerja Kedutaan Besar Prancis di Den Haag selama operasi Merah 1974 Tentara Jepang.

Dia juga diyakini telah memainkan peran kunci peledakan bom di tahun 1975 pada konsulat AS di Kuala Lumpur, dan pada 1977 membajak sebuah Japan Airlines jet di seluruh India, dan serangan bom di sebuah klub untuk prajurit AS di Naples pada tahun 1988 yang mengakibatkan kematian lima orang Amerika.

Dikenai hukuman kurungan selama 20 tahun akhirnya organisasi JAR yang mematikan ini dibubarkan. Kini Fusako mengaku menyesal atas semua perbuatannya, tahun ini dia sudah berusia 72 tahun, dan masih menjunjung tinggi dunia revolusioner.

Sayangnya, Fusako didiagnosa menderita kanker usus dan sekarang sedang rutin menjalani kemoterapi dari dalam tahanan. Dia juga memiliki anak bernama Mei Shigenobu yang enggak kalah cantiknya dari sang ibu.

Mei Shigenobu dikabarkan anak Fusako dengan pria Palestina, salah seorang anggota PFLP. Mei dilahirkan di Beirut dan kini telah berusia 44 tahun. Wah, semoga aja enggak mengikuti jejak dari sang Ibu.

 

Sumber : Herrydotus.wordpress.com

Advertisements

Posted on June 6, 2017, in Come On Share, Hot News and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: