Advertisements

7-Eleven Tutup Karena Kurang Inovasi, Bedah Kasus Bangkrutnya Sevel!

Tiga hari lagi, 30 Juni nanti, PT Modern Internasional Tbk bakal menutup gerai 7-Eleven (Sevel), di seluruh Nusantara. Walau belum tepat 30 Juni sebagian gerai Sevel di Jakarta telah ditutup.

Sevel ditutup lantaran terus mengalami kebangkrutan, puncaknya tidak terjadi kesepakatan dengan PT Pokphand di tahun ini.

Kalau begitu, mari kita tanya ahlinya apa yang menyebabkan Sevel mengalami kebangkrutan. Sistem bisnis yang salah?

1. Sevel dianggap tidak unik dan kurang inovasi

“Sekarang yang jadi masalah adalah pangsa pasarnya. Restoran kalau enggak punya keunikan tersendiri ya dia susah. Sekarang dia buka restoran, barang yang dijual apa? Sama dengan tempat lain. Dia enggak unik rasanya. Dia masuk ke ritel, yang dijual apa? Sama dengan yang lain,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, kepada detikFinance (27/6/2017).

Jika dilihat lagi yang berkunjung ke Sevel kebanyakan para anak muda, mereka cuma bersantai tanpa ada batasan waktu, apalagi ditambah WI-FI yang gratis. Nah, membengkaklah biaya operasional. Padahal Sevel menjual barang yang tidak ditemukan di gerai seperti Alfa**** dan Indo****, alhasil jadi kalah saing dengan gerai lain. Yang sudah banyak melakukan inovasi dengan berbagai program diskon dll.

2. Konsep bisnis yang salah

Sebelumnya pada Senin (25/6), Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani berpendapat jika Sevel tutup karena konsep bisnis yang salah, konsep bisnis yang memperbolehkan pembeli nongkrong berlama-lama di toko, sehingga membuat biaya operasional lebih besar dibanding pendapatan.

“Menurut pandangan saya, Sevel ini bisnis modelnya kurang tepat karena margin dari ritel seperti ini tipis 1-3%. Mestinya (pengunjung) in out cepat, bukan orang duduk berjam-jam cuma beli satu cola, sewa ruangan besar, tidak seperti itu,” tutur Rosan Roeslani.

3. Bisnis Sevel tidak cocok diterapkan di Indonesia

Gati Wibaningsih menjelaskan beda Sevel di Indonesia yang bangkrut dan negara lain, seperti Jepang yang justru usaha Sevel di sana tumbuh subur.

“Beda sama di Jepang itu, orang enggak ada yang duduk ngobrol lama gitu, enggak ada. Enggak kayak di Indonesia, bisa dua-tiga jam di situ, apa lagi pakai WiFi. Di Jepang kan tempatnya kecil dan produktivitas tinggi. Jadi orang enggak ada habiskan waktu nongkrong berjam-jam kecuali holiday,” ucap Gati.

 

 

Advertisements

Posted on June 27, 2017, in Hot News and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: